Go to content | Go to search | Go to navigation

Otonomi Update

Nasi Aking pun Jadi Bahan Celetukan

2008-05-13 10:59:11

Ada yang menarik dalam seminar Otonomi Award bertema Visi Tokoh Nasional tentang Ekonomi Kerakyatan dalam Konteks Otonomi Daerah di Hotel Shangri-La kemarin (30/4). Seminar itu tidak hanya jadi ajang penyampaian pandangan para narasumber tentang otonomi daerah, tapi juga visi mereka tentang pemilihan presiden mendatang.

Hal itu bisa dimaklumi. Sebab, empat narasumber yang hadir sebagai pembicara -Sutiyoso, Wiranto, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Hidayat Nurwahid- adalah para kandidat yang dielus-elus bakal menjadi kontestan dalam ajang Pilpres 2009. Tak pelak, di sela-sela seminar tersebut, celetukan-celetukan berbau "2009" pun bermunculan.

Wiranto, misalnya. Berkali-kali ketua umum Partai Hanura itu membuat pernyataan yang persis dengan pariwara yang menampilkan sosok dirinya di sebagian media. "Fakta di negeri ini masih banyak rakyat miskin. Buktinya, banyak rakyat kita yang makan nasi aking," katanya yang disambut tawa sebagian peserta.

Namun, dia enggan menyatakan diri bakal maju dalam pilpres mendatang. Dia dengan rendah hati hanya menyebut dirinya sebagai "macan" (mantan calon). Maksud mantan panglima TNI adalah dia pernah ikut pilpres pada 2004 lalu "Dilihat dari pakaiannya saja sudah beda," guyon Wiranto.

Beberapa celetukan seputar pilpres juga muncul dari bibir Sutiyoso. Pria kelahiran Semarang itu menegaskan, dirinya sudah menjadi bagian dari empat kepemimpinan nasional. "Sudah empat presiden yang saya ikuti. Dan, semua memiliki karakteristik sendiri-sendiri," katanya.

Karena pengalaman itulah, Sutiyoso mengeluarkan joke jika dia layak disejajarkan dengan para pemimpin nasional yang pernah menjadi RI 1 di negeri ini. "Mereka punya kelebihan sendiri-sendiri. Masak saya tidak bisa lebih baik dari mereka," celetuk Sutiyoso yang disambut ger para undangan.

Hidayat Nurwahid sedikit lebih kalem. Tokoh yang dielus beberapa parpol untuk maju dalam bursa pilpres itu masih malu menyatakan kesediaannya. Malah dia melontarkan sebuah guyonan. "Saya tidak ingin menjadi presiden. Sudah dua kali saya duduk di kursi itu. Pertama presiden PK (Partai Keadilan), kedua presiden PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Makanya, saya tidak terlalu tertarik," katanya.

Jawa Pos, 1 Mei 2008

Berbeda dengan ketiganya, Sri Sultan HB X sama sekali tidak mau bicara soal pencalonan dalam pilpres mendatang. Sepanjang acara, dengan penuh semangat gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta itu membeberkan masalah-masalah yang dihadapi dalam otonomi daerah. (ris/aan/el)