Otonomi Update
Berubah, Peta Pemenang Otonomi Award 2008
Langganan Juara Tumbang
SURABAYA-Ada kejutan pada peta pemenang Otonomi Award 2008 yang diumumkan tadi malam. Daerah yang sejak beberapa tahun jadi langganan juara dan kaya inovasi, seperti Sidoarjo dan Lamongan, tumbang. Kedua daerah itu justru mendapat penilaian stagnan dalam memacu pertumbuhan berbagai sektor. Sebaliknya, daerah-daerah yang tidak pernah masuk hitungan justru unggul dalam meraih posisi utama.
Daerah dengan terobosan paling menonjol bidang pengembangan ekonomi justru diraih Ponorogo. Padahal tahun lalu, daerah ini hanya masuk nominasi di bidang yang sama. Sejak beberapa tahun lalu, "kota reog" ini dikenal dengan model pembangunan terpusat. Seluruh potensi kekayaan dialokasikan untuk membangun pusat kota. Akibatnya, wilayah pusat terlihat maju, sementara pembanguan ekonomi pedesaan terpuruk.
Berkaca dari hal tersebut, Pemkab Ponorogo tampaknya mengubah strategi. Pembangunan dititikberatkan di tingkat pedesaan. Pertumbuhan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dipacu habis-habisan. Dampaknya, sektor ekonomi kerakyatan yang sebelumnya lesu mulai merangkak naik.
Menurut Wakil Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP) Redhi Setiadi, banyak upaya kreatif yang dilakukan pejabat di kabupaten itu. Salah satu yang paling menonjol adalah menumbuhkan 1.600 wirausahawan baru. "Semua sektor digarap. Mulai pertanian dan perdagangan," jelasnya.
Agar UKM bisa hidup, Pemkab juga menyelenggarakan program sertifikasi tanah secara masal. Dengan begitu, tanah yang menjadi aset usaha kecil bisa diagunkan ke bank untuk menambah modal usaha.
Kejutan lain dicatat oleh Pamekasan. Kabupaten ini mendapatkan anugerah dalam kategori daerah dengan terobosan paling menonjol bidang pelayanan publik. Kabupaten di timur pulau Madura diangap cukup inovatif. Misalnya, dalam penyelenggaraan penerimaan siswa baru (PSB), daerah ini menugaskan pembuatan lembar jawaban PSB dan naskah ujian kepada subrayon.
"Kalau ada kebocoran soal tak lagi uncal-uncalan. Cara menyelidiki siapa yang curang juga mudah," sambung peneliti The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) Nur Hidayat. Bahkan, saat ujian diselenggarakan, lembar jawaban ikut ditandatangani pengawas. "Ini menarik untuk proses transparansi," jelasnya.
Pamekasan juga mendirikan pusat pendidikan sains. Lembaga tersebut hanya diikuti 120 siswa pilihan yang punya keunggulan dalam bidang ilmu pengetahuan. Menurut Nur Hidayat, lembaga tersebut terinspirasi dengan kemenangan Andy Octavian Latief, siswa Pamekasan yang meraih medali emas di ajang Olimpiade Fisika Internasional (OFI) Ke-37 di Singapura, 8-16 Juli 2006.
Hasilnya juga cukup menggembirakan. Siswa Pamekasan selalu merajai di setiap even olimpiade sains di beberapa daerah.
Daerah ketiga yang juga meraih kategori utama (profil paling menonjol di bidang kinerja politik) adalah Lumajang. Kabupaten ini sebenarnya hanya melanjutkan program tiga tahun lalu yang hasilnya baru bisa dirasakan saat ini. Misalnya, program pos pelayanan terpadu (posyandu) dengan titik tekan tidak melulu bidang kesehatan. Lebih dari itu, posyandu juga bisa menjadi sarana penyaluran kredit mikro. "Daerah ini mengartikan sehat tidak dari fisik saja, tapi juga jiwa dan ekonomi masyarakatnya," jelasnya. (git/el)
Jawa Pos, 1 Mei 2008