Otonomi Update
Energi Sidoarjo Terkuras Lumpur
Untuk kali pertama Kabupaten Sidoarjo dan Lamongan yang dalam enam kali pemberian penghargaan sebelumnya selalu dapat kali ini gigit jari. Menurut Redhi Setiadi, banyak faktor mengapa terobosan yang dilakukan kedua daerah itu dianggap tidak menonjol dalam ajang Otonomi Award kali ini.
Sidoarjo, misalnya, energi pejabat di daerah ini banyak yang terkuras saat menangani lumpur Lapindo. Kondisi itu mengakibatkan kebijakan yang dibikin pemkab tidak mendapat perhatian positif dari publik. "Masyarakat sudah kadung beranggapan pejabat mereka gagal menganani Lapindo," jelasnya.
Padahal, tahun lalu, Sidoarjo masih menyabet penghargaan sebagai daerah dengan kategori unik. Saat itu "kota udang" ini dinilai menonjol dalam bidang perlindungan perempuan dan anak. Tahun ini, Sidoarjo hanya mendapatkan nominasi di bidang partisipasi publik.
Nasib yang sama juga dialami Lamongan. Tahun 2006, Lamongan masih menyabet pretasi sebagai daerah dengan terobosan paling menonjol bidang pengembangan ekonomi. Namur, tahun ini Lamongan hanya meraih beberapa nominasi, seperti terobosan inovatif bidang pemerataan ekonomi, serta nominasi bidang pemberdayaan ekonomi lokal.
Menurut Redhi Setiadi, Lamongan stagnan dalam bidang program. Dari tahun ke tahun yang ditawarkan hanya itu-itu saja. Di antaranya Wisata Bahari Lamongan (WBL). " Kurang ada kreativitas. Seharusnya ada terobosan yang lebih menarik," jelasnya.
Sementara bagi Surabaya, tahun ini merupakan kali kedua meraih sebagai daerah dengan terobosan inovatif bidang pengelolaan lingkungan hidup. Surabaya dinilai unggul dalam bidang pengelolaan sampah mandiri.
Untuk bidang pelayanan publik, Surabaya masih teringgal jauh dengan daerah-daerah lain. "Harapan masyarakat yang tinggi tidak dibarengi dengan perbaikan fasilitas pelayann publik yang memadai. Lihat saja pelayanan kesehatan dan sekolah negeri," jelasnya. (git/el)
Jawa Pos, 1 Mei 2008