Otonomi Update
Tak Ada Pemekaran di Jatim
Kalla Nilai Publik Puas
SURABAYA - Wakil Presiden Jusuf Kalla memuji pelaksanaan otonomi daerah di Jawa Timur. Kualitas layanan publik terus meningkat. Pada saat yang sama, tak ada riak-riak yang menghambat proses pembangunan.
Di Jatim, kata Kalla, tak ada tuntutan pemekaran wilayah. "Ini membuktikan jika masyarakat cukup puas dengan pelayanan publik yang mereka peroleh," kata Jusuf Kalla pada malam penganugerahan Otonomi Award 2008 yang diselenggarakan oleh The Jawa Pos Institute of Pro Otonomi (JPIP) di Hotel Shangri-La, Surabaya, kemarin.
Pasalnya, salah satu faktor munculnya desakan dari beberapa daerah agar ada pemekaran wilayah adalah minimnya layanan publik yang bisa mereka nikmati. "Dan di Jatim terbukti tidak ada masalah. Tidak pernah kita mendengar adanya desakan itu," ujarnya.
Dia mengatakan sudah saatnya digagas penganugerahan bagi daerah yang minim inovasi dalam upaya pembangunan wilayahnya. "Jika selama ini penghargaan diberikan pada yang terbaik, maka kapan-kapan perlu dibuat penghargaan bagi pemda yang buruk kinerjanya," ujar Wapres.
Sekitar 500 undangan dari kalangan pejabat pemda di Jatim, pengusaha, dan akademisi hadir dalam perhelatan tadi malam. Antara lain Gubernur Jatim Imam Utomo, Sekdaprov Soekarwo, Chairman/CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan, bos Grup Podo Joyo Masyhur Teguh Kinarto, Managing Director PT HM Sampoerna Tbk Angky Camaro, Wakil Wali Kota Surabaya Arief Affandi, sejumlah kepala daerah di Jatim, serta Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan.
Menurut Wapres, penghargaan itu dianggap cukup penting. Sebab, hal ini bisa menjadi salah satu cambuk bagi para petinggi di setiap pemda agar mau berinovasi untuk perbaikan pembangunan di daerahnya.
Kalla menegaskan, pada era modern ini, inovasi sudah menjadi keharusan bagi seluruh pemerintah daerah."Dan semua itu kembali pada kepemimpinan di daerah masing-masing," katanya.
Secara khusus, Kalla juga memberikan apresiasi pada perhelatan Otonomi Award JPIP yang sudah memasuki tahun ketujuh. Menurut dia, penghargaan ini bisa menjadi salah elemen penting kesuksesan sebuah pembangunan. "Salah satu cambuk agar daerah mau berinovasi adalah kompetisi. Otonomi Award ini bisa menjadi salah satu ajang berkompetisi," ujar Jusuf Kalla.
Kalla memuji pemerintah daerah di Jatim yang dianggapnya memiliki peran penting dalam pembangunan secara nasional. "Saya selalu memantau, setiap ada penghargaan, Jatim selalu masuk dalam daftar. Karena itu, saya bangga dengan keberhasilan Jatim," katanya.
Sementara itu, Chairman Jawa Pos Group Dahlan Iskan memberikan apresiasi tinggi pada berbagai inovasi yang dilakukan setiap pemda. "Harus diakui, sebagian besar daerah sudah memiliki berbagai inovasi yang luar biasa," katanya.
Ini bisa dilihat dari makin banyaknya inovasi pembangunan yang dilakukan masing-masing pemda. Sepanjang 2007, di seluruh Jatim, tim JPIP telah menemukan 67 bentuk terobosan di bidang pelayanan kesehatan, 70 macam terobosan di bidang pelayanan pendidikan, 40 macam terobosan pelayanan administrasi, dan 47 macam terobosan di bidang pelayanan sarana dan prasarana umum.
Menurut Dahlan, hal ini menunjukkan semangat tiap pemda perlu diapresiasi. Apalagi, upaya ini dilakukan di tengah-tengah ganjalan, mulai dari keterbatasan APBD hingga munculnya rasan-rasan resentralisasi oleh pemerintah pusat, yang dianggap bisa mengurangi esensi otonomi daerah.
Yang jelas, kata Dahlan, sudah saatnya seluruh pemda diberi motivasi lebih agar inovasi pembangunan tidak terhenti. Sebab, bagaimanapun juga cukup banyak nilai plus yang layak dibanggakan negeri ini.
Soal demokrasi misalnya, selama ini sebagian orang menganggap jika demokrasi maupun stabilitas di Indonesia kalah jauh dibanding negara lain. "Padahal, stabilitas di negeri ini adalah stabilitas riil. Karena demokrasi yang dijalankan di negeri ini murni," katanya.
Sementara itu, banyak kejutan dalam penganugerahan Otonomi Award tahun ini. Beberapa wajah baru bermunculan. Sedangkan, wajah lama yang sebelumnya mendominasi, kali ini malah tenggelam.
Tiga penghargaan kategori utama (grand category) jatuh ke tiga kabupaten. Untuk kategori daerah dengan profil kinerja paling menonjol di bidang politik jatuh ke tangan kabupaten Lumajang.
Sedangkan, dua grand category lain diberikan pada kabupaten Ponorogo dan Pamekasan. Dua kabupaten ini dinilai sukses melakukan inovasi masing-masing di bidang pengembangan ekonomi serta layanan publik.
Sementara itu Direktur eksekutif JPIP Maksum mengakui bahwa sebenarnya terjadi persaingan ketat dari para nominee. Baik dari wajah lama pemenang Otonomi Award sebelumnya hingga pendatang baru. "Sehingga sangat sulit bagi kami untuk memilih."
Tak heran jika 10 menit menjelang acara berakhir, semua pihak masih bertanya-tanya siapakah yang akan menerima perhragaan tertinggi atas inovasi daerah Jawa Timur. "Yang mengejutkan adalah pemenang malahan dari pendatang baru. Sebut saja Lamongan yang tahun lalu berjaya, sekarang hanya puas sebagai nomine saja."
Menurut Maksum pemilihan pemenang dinilai dari inovasi. "Wajah wajah lama stagnan dalam inovasi. Tidak program ataupun inovasi baru," tandasnya.
Peneliti JPIP Wawan Sobari menegaskan jika Otonomi Award tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, ada beberapa catatan khusus yang masih perlu mendapat perhatian.
Salah satunya adalah sikap daerah-daerah yang selama ini belum kebagian Otonomi Award. Dari hasil penelitian JPIP, ada dua kategori terkait daerah ini. "Ada yang skeptis. Mereka terkesan pasrah dan tidak mau berinovasi. Tapi ada juga daerah yang tetap berusaha dan melakukan berbagai upaya perbaikan pembangunan," kata Wawan.
Karena itulah, tahun depan JPIP punya tugas berat untuk bisa mendorong pemda-pemda yang masuk kategori ’skeptis’ ini untuk mau berinovasi. "Bagaimanapun juga, award ini dibuat demi perbaikan pembangunan di jatim," kata Wawan.
Selain itu, evaluasi lain yang perlu mendapat perhatian adalah sikap sebagian Pemda yang masih terkesan ’tertutup’. "Masih banyak pemda yang enggan untuk membeberkan data-datanya," katanya. (ris/cie/aan/fan)
Jawa Pos, 1 Mei 2008