Go to content | Go to search | Go to navigation

Kolom Pro Otonomi

Surabaya Peraih Kategori Khusus Pengelolaan Lingkungan Otonomi Award 2008

Dari Ruang Terbuka ke Kelola Sampah

2008-05-26 14:26:08

Otonomi Award Kategori Khusus Pengelolaan Lingkungan tahun ini diraih Surabaya. Banyak upaya dilakukan Pemerintah Kota Surabaya untuk memperbaiki lingkungan. Apa saja? Berikut catatan tim peneliti JPIP, Dadan S. Suharmawijaya.
---------------------------

Dari banyak tamu yang berkunjung ke JPIP, beberapa di antaranya melakukan city tour bersama Tim JPIP. Ada komentar yang hampir sama dilontarkan mereka, "Ternyata sekarang Surabaya menjadi hijau, bersih, dan tertata."

Itulah sekilas komentar para tamu ketika melintasi sejumlah ruas jalan di Kota Surabaya yang dihiasi taman jalan yang asri.

Kota Pahlawan saat ini memang berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Terlihat lebih ramah lingkungan. Di sepanjang jalur jalan diciptakan jalur hijau yang tertata. Pulau-pulau jalan yang dulu kosong kini terlihat seperti kebun bunga yang asri. Hijau dan penuh warna. Sampah di jalan-jalan pun kini tak tampak lagi.

Bahkan, sejumlah taman yang dulu seperti tanah lapang yang gersang kini berubah total. Menjadi ruang terbuka hijau yang nyaman. Misalnya, Taman Bungkul, Kebon Bibit, dan Taman Prestasi. Taman-taman itu kini menjadi ruang publik untuk bermain anak, sekadar bersantai keluarga, atau refreshing sepulang kerja. Sejumlah fasilitas melengkapi taman-taman ini, termasuk free wifi sebagai bagian dari program cyber city.

Di balik penampilan bersih dan rindangnya Surabaya saat ini, berbagai upaya keras dilakukan Pemerintah Kota Surabaya. Citra sebagai kota penuh sampah, kering, dan kumuh merupakan tantangan berat bagi pemerintah Kota Surabaya. Di bawah kepemimpinan pasangan Wali Kota Bambang D.H. dan Wakil Wali Kota Arif Afandi, Surabaya harus ada yang berubah. Demikian komitmen pasangan ini tatkala memenangkan pilkada pada 2005. Setidaknya wajah dan penampilan kota harus berubah.

Langkah pasangan tersebut memang diwujudkan pemerintah kota dalam berbagai program lingkungan. Di antaranya perluasan ruang terbuka hijau, program pengelolaan kebersihan, dan penanggulangan banjir. Perluasan ruang terbuka hijau diwujudkan dalam revitalisasi taman kota dan penegakan Perda No 7/2002 tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH). Penertiban pun dilakukan seperti menutup sejumlah SPBU di lokasi peruntukan ruang terbuka hijau.

Berdasarkan data Pemkot Surabaya, perluasan RTH itu sedikit membuahkan hasil. Di Surabaya, pada 2005, luas RTH hanya 262,71 ha. Jumlah itu meningkat menjadi 266,13 ha pada 2006 dan 2007 mencapai 269,58 ha. Dengan demikian persentase RTH mencapai 0,8 % dari total luas Surabaya yang 33.306 ha. Selain di dalam kota, konservasi hutan mangrove di sepanjang pantai Surabaya juga dilakukan. Terutama di pantai timur.

Sukses Pemkot Surabaya mengubah wajah kota menjadi lebih hijau dan asri tak lepas dari tepatnya penempatan sosok Tri Rismaharini menjadi kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Di tangan perempuan berkomitmen tinggi inilah keinginan pasangan wali kota Surabaya terwujud. Meski jabatan yang diemban Rismaharini sejak 25 November 2005 berpindah tangan, sejumlah program yang digagasnya dilanjutkan Hidayat Syah sebagai kepala dinas yang baru. (dadan@jpip.or.id)

Jawa Pos, 26 Mei 2008