Kolom Pro Otonomi
Kabupaten Pasuruan, Peraih Otonomi Award Bidang Kesehatan
Andalkan Inovasi Gemerlap Bersama
Kabupaten Pasuruan meraih Otonomi Award sebagai daerah yang memiliki terobosan paling inovatif di bidang kesehatan. Daerah itu mengusung dua inovasi. Gemerlap Bersama dan Perawatan Kesehatan di Rumah di Puskesmas Pandaan. Berikut laporan Hariatni Novitasari dari The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP).
---
Pagi itu, Jumat (6/6) ada yang berbeda pada Desa Durensewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Hari itu, 29 perempuan berduyun-duyun datang ke balai desa. Mereka adalah kader Gemerlap Bersama (Gerakan Membudidayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat). Setiap bulan mereka mengadakan pertemuan rutin. Pertemuan itu tidak saja mengevaluasi program yang telah dijalankan. Tetapi, juga menjaring usul dari para kader guna perencanaan program ke depan.
Sejak diinisiasi dinas kesehatan (dinkes) pada 2006 sampai 2007, program tersebut telah menjangkau 248 desa dan kelurahan dari total 365. Pada tahun pertama, program itu diujicobakan di 33 desa/kelurahan.
Menurut Kepala Dinkes Kabupaten Pasuruan dr Nanang Hari P., lahirnya program itu dilatarbelakangi rendahnya pemahaman masyarakat tentang masalah kesehatan yang mereka hadapi. Karena itu, program tersebut bertumpu pada pemberdayaan keluarga. Keluarga akan mendeteksi masalah kesehatan yang dihadapi. Sebagai program yang bertujuan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat, pendekatan yang digunakan adalah promotif dan preventif.
Di lapangan, program tersebut tidak semudah yang tertera di atas kertas. Tidak semua keluarga mampu menganalisis persoalan kesehatan yang dihadapi. Sebab, tingkat pendidikan mereka rendah dan pengetahuan kesehatan minim.
Ketersediaan polindes dan tenaga kesehatan di desa dijadikan prasyarat utama dilaksanakannya program itu. Dalam hal ini, tenaga kesehatan adalah bidan atau perawat. Bersama dengan kader posyandu dan dasawisma, para petugas kesehatan tersebut akan membantu warga untuk mengisi kartu kesehatan keluarga (K3).
Para petugas kesehatan itu terlebih dahulu menerima pelatihan dari dinkes. Selanjutnya, merekalah yang mengadakan pelatihan serupa bagi kader posyandu dan dasawisma di tingkat desa. Pengisian K3 tersebut dikenal dengan nama survei wawas diri. Hasil survei satu keluarga akan diletakkan di tempat yang mudah dilihat di dalam rumah itu. Tujuannya, agar bisa dibandingkan dengan survei yang dilakukan pada tahun berikutnya.
Sebanyak 29 item ditanyakan dalam survei itu. Hasilnya direkap dan dibawa ke diskusi kelompok terarah di tingkat desa. Dalam diskusi tersebut, akan diputuskan masalah apa yang dihadapi bersama dan bagaimana mengatasinya. Masalah yang akan diatasi sangat beragam di tiap desa. Di satu desa, masalah jamban bisa menjadi masalah utama. Akan tetapi, di desa lain masalah utamanya adalah sampah.
Pemerintah daerah mengalokasikan dana Rp 10 juta untuk tiap desa. Anggaran tersebut digunakan untuk melatih kader dan menjalankan program yang telah disepakati bersama.
Pada 2007, Departemen Kesehatan (Depkes) meluncurkan program Desa Siaga. Gemerlap Bersama dikombinasikan dengan program itu. Sebab, tujuan yang ingin dicapai dalam desa siaga ada dalam Gemerlap Bersama. Karena itu, namanya diganti Desa Siaga Gemerlap.
Hingga akhir 2007, tinggal 115 desa/kelurahan yang melaksanakan program tersebut. ''Kami akan menuntaskannya tahun ini (2008)," jelas Kadinkes dr Nanang Hari P. Untuk mencapainya, telah dilaksanakan pelatihan bagi tenaga kesehatan di desa pada awal Juni ini.
Sampah Tak Lagi Berserakan
Warga Desa Durensewu merasakan dampak positif program itu. Meski baru diimplementasikan pada 2007, sudah mulai tampak perubahan yang terjadi. Di desa yang terdiri atas tujuh dusun tersebut, tidak lagi tampak sampah yang berserakan.
Berdasar hasil diskusi kelompok terarah, sampah menjadi masalah utama yang harus diatasi. Meski, merokok di dalam rumah menduduki persentase terbesar. Sampah dipilih sebagai fokus masalah yang harus diselesaikan karena dampaknya lebih bisa diukur dan dirasakan orang banyak.
Para kader merasakan, pada awalnya tidak mudah mengajak warga desa menjalankan kebiasaan hidup bersih. Cara yang ditempuh para kader, antara lain, lewat pengajian atau arisan dasawisma. Namun, para kader pantang menyerah. Mereka tiada jemu untuk mengingatkan masyarakat.
Sebagai implementasi program itu, setiap dusun memiliki seorang petugas kebersihan yang mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah. Kemudian sampah itu dikumpulkan di tempat pembuangan sampah (TPA) yang letaknya tak jauh dari balai desa. Menurut Kades Durensewu Sugeng Santoso, lahan yang digunakan untuk pembuangan sampah adalah tanah milik desa.
Di TPA itulah, sampah dipisahkan petugas kebersihan yang digaji dengan sistem urunan oleh warga. (mk/E-mail: hnovitasari@jpip.or.id).
---
Pagi itu, Jumat (6/6) ada yang berbeda pada Desa Durensewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Hari itu, 29 perempuan berduyun-duyun datang ke balai desa. Mereka adalah kader Gemerlap Bersama (Gerakan Membudidayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat). Setiap bulan mereka mengadakan pertemuan rutin. Pertemuan itu tidak saja mengevaluasi program yang telah dijalankan. Tetapi, juga menjaring usul dari para kader guna perencanaan program ke depan.
Sejak diinisiasi dinas kesehatan (dinkes) pada 2006 sampai 2007, program tersebut telah menjangkau 248 desa dan kelurahan dari total 365. Pada tahun pertama, program itu diujicobakan di 33 desa/kelurahan.
Menurut Kepala Dinkes Kabupaten Pasuruan dr Nanang Hari P., lahirnya program itu dilatarbelakangi rendahnya pemahaman masyarakat tentang masalah kesehatan yang mereka hadapi. Karena itu, program tersebut bertumpu pada pemberdayaan keluarga. Keluarga akan mendeteksi masalah kesehatan yang dihadapi. Sebagai program yang bertujuan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat, pendekatan yang digunakan adalah promotif dan preventif.
Di lapangan, program tersebut tidak semudah yang tertera di atas kertas. Tidak semua keluarga mampu menganalisis persoalan kesehatan yang dihadapi. Sebab, tingkat pendidikan mereka rendah dan pengetahuan kesehatan minim.
Ketersediaan polindes dan tenaga kesehatan di desa dijadikan prasyarat utama dilaksanakannya program itu. Dalam hal ini, tenaga kesehatan adalah bidan atau perawat. Bersama dengan kader posyandu dan dasawisma, para petugas kesehatan tersebut akan membantu warga untuk mengisi kartu kesehatan keluarga (K3).
Para petugas kesehatan itu terlebih dahulu menerima pelatihan dari dinkes. Selanjutnya, merekalah yang mengadakan pelatihan serupa bagi kader posyandu dan dasawisma di tingkat desa. Pengisian K3 tersebut dikenal dengan nama survei wawas diri. Hasil survei satu keluarga akan diletakkan di tempat yang mudah dilihat di dalam rumah itu. Tujuannya, agar bisa dibandingkan dengan survei yang dilakukan pada tahun berikutnya.
Sebanyak 29 item ditanyakan dalam survei itu. Hasilnya direkap dan dibawa ke diskusi kelompok terarah di tingkat desa. Dalam diskusi tersebut, akan diputuskan masalah apa yang dihadapi bersama dan bagaimana mengatasinya. Masalah yang akan diatasi sangat beragam di tiap desa. Di satu desa, masalah jamban bisa menjadi masalah utama. Akan tetapi, di desa lain masalah utamanya adalah sampah.
Pemerintah daerah mengalokasikan dana Rp 10 juta untuk tiap desa. Anggaran tersebut digunakan untuk melatih kader dan menjalankan program yang telah disepakati bersama.
Pada 2007, Departemen Kesehatan (Depkes) meluncurkan program Desa Siaga. Gemerlap Bersama dikombinasikan dengan program itu. Sebab, tujuan yang ingin dicapai dalam desa siaga ada dalam Gemerlap Bersama. Karena itu, namanya diganti Desa Siaga Gemerlap.
Hingga akhir 2007, tinggal 115 desa/kelurahan yang melaksanakan program tersebut. ''Kami akan menuntaskannya tahun ini (2008)," jelas Kadinkes dr Nanang Hari P. Untuk mencapainya, telah dilaksanakan pelatihan bagi tenaga kesehatan di desa pada awal Juni ini.
Sampah Tak Lagi Berserakan
Warga Desa Durensewu merasakan dampak positif program itu. Meski baru diimplementasikan pada 2007, sudah mulai tampak perubahan yang terjadi. Di desa yang terdiri atas tujuh dusun tersebut, tidak lagi tampak sampah yang berserakan.
Berdasar hasil diskusi kelompok terarah, sampah menjadi masalah utama yang harus diatasi. Meski, merokok di dalam rumah menduduki persentase terbesar. Sampah dipilih sebagai fokus masalah yang harus diselesaikan karena dampaknya lebih bisa diukur dan dirasakan orang banyak.
Para kader merasakan, pada awalnya tidak mudah mengajak warga desa menjalankan kebiasaan hidup bersih. Cara yang ditempuh para kader, antara lain, lewat pengajian atau arisan dasawisma. Namun, para kader pantang menyerah. Mereka tiada jemu untuk mengingatkan masyarakat.
Sebagai implementasi program itu, setiap dusun memiliki seorang petugas kebersihan yang mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah. Kemudian sampah itu dikumpulkan di tempat pembuangan sampah (TPA) yang letaknya tak jauh dari balai desa. Menurut Kades Durensewu Sugeng Santoso, lahan yang digunakan untuk pembuangan sampah adalah tanah milik desa.
Di TPA itulah, sampah dipisahkan petugas kebersihan yang digaji dengan sistem urunan oleh warga. (mk/E-mail: hnovitasari@jpip.or.id).
Jawa Pos, 16 Juni 2008