Kolom Pro Otonomi
Hunian Tinggi, Puskesmas Terapkan Home Care
Terletak di jalan protokol strategis Surabaya-Malang, bed occupancy rate (BOR) rawat inap Puskesmas Pandaan lebih dari 100 persen. Itu melebihi BOR tingkat nasional yang hanya 70 persen.
Padahal, puskesmas itu telah memiliki 20 tempat tidur di ruang perawatan dan 6 tempat tidur di ruang unit gawat darurat (UGD). ''Sebab, layanan kesehatan telah lintas kawasan administratif,'' ungkap Kepala Puskesmas Pandaan, dr Ani Latifah.
Kondisi itulah yang melatarbelakangi lahirnya perawatan kesehatan di rumah (home care) di puskesmas tersebut. Puskesmas tersebut juga didukung kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Yaitu, 4 dokter dan 16 paramedis.
Dengan program tersebut, pasien yang tinggal menjalani masa penyembuhan bisa meneruskan perawatan di rumah. Sejak dikembangkan pada 2006, program itu menjadi bagian dari rawat inap. Pada umumnya, pasien yang menggunakan perawatan kesehatan di rumah adalah para penderita stroke, diabetes, dan perawatan pasca kecelakaan.
Pada 2007, puskesmas itu tidak saja memberikan pelayanan kesehatan di rumah, tetapi juga antar jemput pasien dan layanan telepon 24 jam. Melalui nomor 0343-631539, warga yang memiliki masalah kesehatan bisa berkonsultasi dengan tenaga medis.
Untuk program perawatan kesehatan di rumah dan antar jemput pasien, Puskemas Pandaan dilengkapi dua ambulans, tujuh sepeda motor, dan public health nursing (PHN) kit, seperti termometer, tensi. Untuk program perawatan kesehatan di rumah dan antar jemput pasien tersebut, diterapkan tarif yang disesuaikan dengan Perda No 3/2003 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.
''Misalnya, untuk pemeriksaan saja, dikenakan tarif Rp 3 ribu,'' jelas perempuan berjilbab itu.
Hingga Mei 2008, pasien yang memanfaatkan perawatan kesehatan di rumah berjumlah 18 orang. Pada 2008, program perawatan kesehatan di rumah juga mulai dikembangkan di Puskesmas Winongan. (novi/mk)
Padahal, puskesmas itu telah memiliki 20 tempat tidur di ruang perawatan dan 6 tempat tidur di ruang unit gawat darurat (UGD). ''Sebab, layanan kesehatan telah lintas kawasan administratif,'' ungkap Kepala Puskesmas Pandaan, dr Ani Latifah.
Kondisi itulah yang melatarbelakangi lahirnya perawatan kesehatan di rumah (home care) di puskesmas tersebut. Puskesmas tersebut juga didukung kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Yaitu, 4 dokter dan 16 paramedis.
Dengan program tersebut, pasien yang tinggal menjalani masa penyembuhan bisa meneruskan perawatan di rumah. Sejak dikembangkan pada 2006, program itu menjadi bagian dari rawat inap. Pada umumnya, pasien yang menggunakan perawatan kesehatan di rumah adalah para penderita stroke, diabetes, dan perawatan pasca kecelakaan.
Pada 2007, puskesmas itu tidak saja memberikan pelayanan kesehatan di rumah, tetapi juga antar jemput pasien dan layanan telepon 24 jam. Melalui nomor 0343-631539, warga yang memiliki masalah kesehatan bisa berkonsultasi dengan tenaga medis.
Untuk program perawatan kesehatan di rumah dan antar jemput pasien, Puskemas Pandaan dilengkapi dua ambulans, tujuh sepeda motor, dan public health nursing (PHN) kit, seperti termometer, tensi. Untuk program perawatan kesehatan di rumah dan antar jemput pasien tersebut, diterapkan tarif yang disesuaikan dengan Perda No 3/2003 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan.
''Misalnya, untuk pemeriksaan saja, dikenakan tarif Rp 3 ribu,'' jelas perempuan berjilbab itu.
Hingga Mei 2008, pasien yang memanfaatkan perawatan kesehatan di rumah berjumlah 18 orang. Pada 2008, program perawatan kesehatan di rumah juga mulai dikembangkan di Puskesmas Winongan. (novi/mk)
Jawa Pos, 16 Juni 2008