Go to content | Go to search | Go to navigation

Kolom Pro Otonomi

Butuh Pemerataan Modal

2008-06-26 00:20:14
Komitmen pemberdayaan kekuatan ekonomi lokal tidak terletak pada kebijakan jangka panjang dan menengah saja, tapi juga berupa program-program peningkatan kualitas perdagangan kecil dan menengah. Salah satunya melalui revitalisasi pasar tradisional dan skala menengah.
 
Tengok saja Pasar Legi yang tidak jauh dari tempat wali kota Blitar berkantor. Belajar dari model pengembangan Pasar Turi Surabaya, Pasar Legi dibangun menjadi pasar semimodern. Sejak 2004, pasar tersebut tidak lagi kumuh dan becek seperti pasar yang dikelola pemda umumnya. Hal itu meningkatkan kenyamanan berbelanja konsumen dan pedagang.
 
Meski seluruh kios belum terisi, berkah perbaikan pasar tersebut mulai terasa. Sucipto, pedagang pakaian di lantai satu, menilai berjualan saat ini lebih nyaman karena lebih terang dan bersih. Dampaknya, omzet berjualan naik lebih dari Rp 500 ribu per hari. Padahal, sebelumnya cukup sulit menjual dagangan sebesar itu.
 
Hal senada diungkapkan Nurlaili, penjual kerajinan pandai besi. Selain kiosnya lebih luas daripada sebelum perbaikan, omzetnya meningkat tajam. Sebelum perbaikan pasar, dirinya hanya mampu menjual barang senilai Rp 800 ribu sehari.
 
Ketika ditemui tim JPIP awal Juni lalu, dia mengaku mampu menjual hingga Rp 4 juta per hari. Pendapatan tersebut, kata dia, cukup menguntungkan. Sebab, untuk kios yang ditempati, dirinya hanya wajib membayar sewa Rp 20 ribu dan tambahan retribusi Rp 3 ribu sehari.
 
Mereka menambahkan pula perbaikan aspek kerja sama pemkot dan peguyuban pedagang dalam pengelolaan pasar. Pedagang bisa berpartisipasi terkait kebijakan pengelolaan pasar. Termasuk, upaya-upaya penertiban dan kerja sama antar pedagang untuk menjaga citra serta kenyamanan Pasar Legi. Bagi pedagang, hal tersebut penting untuk menjaga kontinuitas usahanya.
 
Namun, pedagang masih mengeluhkan persoalan klasik terkait terbatasnya modal, sehingga kemampuan melakukan ekspansi usaha mereka terbatas. Khusus pedagang pandai besi sering mendapat keluhan dari perajin cangkul karena kesulitan bahan baku. Padahal, cangkul Blitar sangat terkenal dan dipakai hingga luar Jawa. Pun, harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per buah.
 
Pemkot Blitar sebenarnya tidak tinggal diam menanggapi keluhan tersebut. Pada 2007 saja, pemkot memberikan pinjaman modal bagi pengusaha kecil dan menengah dengan total Rp 4,254 miliar. Sementara itu, sembilan bank di Kota Blitar telah menyalurkan kredit usaha kecil lebih dari Rp 457 miliar hingga 2006.
 
Meski tidak semua untuk pengusaha di wilayah Kota Blitar, angka tersebut cukup memadai. Menjadi pertanyaan bila masih banyak pengusaha kecil yang kekurangan modal. Berarti, penerima kredit masih belum merata dan menyentuh kreditor usaha kecil baru. (wawan/mk)
 
Jawa Pos, 23 Juni 2008