Go to content | Go to search | Go to navigation

Kolom Pro Otonomi

Undang Masuk Peternak Ayam

2008-08-12 08:54:42
Mulai 2003 sampai 2008, panjang jaringan pipa distribusi pelayanan salah satu Hippam telah mencapai 125 kilometer. Prestasi sama dialami enam Hippam yang tergolong paling sukses. Jaringan distribusi air bersih yang mencapai ratusan kilometer tersebut telah memenuhi kebutuhan puluhan dusun-dusun dan desa-desa. Tiga kecamatan yang dulu terbelakang, saat ini pertumbuhan ekonominya mulai menggeliat.

Sejak tersedianya air bersih, banyak investor peternakan ayam maupun sapi perah yang berdatangan ke wilayah itu. Kondisi geografis dan suhu di wilayah tersebut dianggap cocok bagi usaha peternakan. Namun, ketersediaan air bersih menjadi pendukung utama usaha peternakan.

Salah seorang warga yang menekuni usaha peternakan ayam adalah Agus Wiyono. Dia adalah seorang penyuluh pertanian yang tinggal di Desa Ngepoh, Kecamatan Tanggunggunung. Sejak 2002, Agus bersama sekitar 15 peternak ayam di wilayah itu menekuni bisnis ayam pedaging dan petelur dengan pola inti plasma.

Peternakan Agus berperan sebagai inti, sementara peternak lain menjadi plasmanya. Pola itu dipakai untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup banyak sehingga membutuhkan kerja sama penyediaan komoditas antarpeternak. Agus saat ini memelihara sekitar 7 ribu ekor ayam, baik pedaging maupun petelur.

Cerita sukses lain dialami Sutoyo, seorang pengusaha yang sekaligus sebagai kepala desa di Sumberdadap, Kecamatan Pucanglaban. Apa yang dilakukan Sutoyo pantas diapresiasi sebagai pahlawan lingkungan sekaligus pengusaha yang jeli. Betapa tidak, Sutoyo berhasil menyulap puluhan hektare tanah tandus menjadi hutan jati yang hijau. Tentu dia tidak menyirami seluruh bukit tandus itu dengan air bersih dari Hippam di wilayahnya.

Untuk menghijaukan bukit tandus yang ada, Sutoyo cukup membuka peternakan sapi perah di puncak bukit. Kebutuhan air bersih peternakan sapi perahnya dicukupi dari distribusi Hippam. Namun, kotoran sapi peternakannya dialirkan dengan parit-parit yang memutar mengelilingi punggung bukit tandus. Dengan bantuan air hujan ketika musimnya, kotoran sapi menjadi pupuk yang mengalir ke sekeliling bukit.

Pupuk itulah yang menyuburkan tanah perbukitan tandus di sekelilingnya. Mengingat struktur perbukitan berupa bebatuan kapur dengan hanya sedikit tanah di atasnya, hanya tumbuhan tertentulah yang cocok untuk ditanam. Pohon tertentu yang mampu tumbuh di tempat seperti itu, tapi memiliki nilai ekonomis menguntungkan, adalah pohon jati.

Saat ini Sutoyo telah berinvestasi empat ribu pohon jati unggulan di tanah yang dulu tandus. Dengan perhitungan harga saat ini, jati berumur lima belas tahunan seharga Rp 2 juta per pohon. Bisa dibayangkan, sang kepala desa pada saatnya nanti akan meraih keuntungan sedikitnya Rp 8 miliar. (dadan/mk)
Jawa Pos, 4 Agustus 2008