Go to content | Go to search | Go to navigation

Kolom Pro Otonomi

Koki Otonomi

Jangan Lihat Sisi Percepatan Saja

2008-08-12 09:06:01
Cakupan reformasi pendidikan terlalu luas. Untuk menilainya, tidak boleh dilihat dari perspektif percepatan semata. Anggota Komisi X DPR Abd. Hamid Wahid menuturkan hal itu kepada JPIP.

---

Sebagai bagian dari reformasi pendidikan, bagaimana Anda melihat implementasi UU Sisdiknas?

Kalau dilihat dari sisi percepatan, memang ada kelambanan. Contohnya, implementasi UU Sisdiknas. Tapi, sisi itu terkait erat dengan spektrum reformasi pendidikan yang cakupannya sangat luas. Tentu tidak mungkin mengharap perubahan berarti dalam lahan yang sangat luas tanpa skala prioritas dalam penanganannya.

Pemerintah baru mengesahkan empat di antara 13 PP yang direncanakan. Kenapa?

Jangan mempermasalahkan berapa jumlah PP sebagai implementasi UU Sisdiknas. Yang terpenting, muatan substansi masalahnya sudah termaktub semua. Memang, jika kita cermati masalah yang diamanatkan untuk diterjemahkan pengaturannya secara teknis, yang tercakup saat ini mungkin masih di bawah 50 persen.

Banyak kalangan menilai nuansa sentralisasi pendidikan begitu kuat. Menurut Anda?

Otonomi daerah memang memindahkan bandul yang semula berada di pusat ke daerah. Padahal, dalam kerangka negara kesatuan, kita harus lihat juga dari sisi keseimbangan bandul tersebut. Itu terkait erat dengan bagaimana cara kita menerjemahkan arti sentralisasi dan desentralisasi.

Apakah pembagian urusan bidang pendidikan sudah sesuai semangat desentralisasi?

Bisa jadi, pada tataran semangat sudah selesai. Tapi, apakah semangat itu menjiwai secara vertikal maupun horizontal di berbagai jenjang? Saya kira, itulah yang masih harus kita tuntaskan.

Bagaimana Anda melihat komitmen pemerintah daerah dalam bidang pendidikan?

Pada tingkat komitmen, saya tidak melihat ada yang perlu dipermasalahkan. Bedanya, apakah komitmen itu dilandasi kesadaran untuk mewujudkannya ke dalam upaya sistematis, berkelanjutan, partisipatif, dan berkeadilan di daerah atau hanya merupakan jelmaan dari pilihan-pilihan taktis jangka pendek dan untuk kepentingan sesaat. Saya kira, masyarakat sudah semakin dewasa untuk memberikan evaluasi dan penilaian. (dayat/mk)
Jawa Pos, 11 Agustus 2008