Go to content | Go to search | Go to navigation

Kolom Pro Otonomi

Koki Otonomi

Kalah dari Isu Kemiskinan

2008-08-25 04:45:14

Pengangguran usia muda masih luput dari perhatian pengambil kebijakan di daerah. Mengapa itu bisa terjadi? Bagaimana solusinya? Berikut wawancara dengan dosen FISIP Unair Bagong Suyanto.

Mengapa pengangguran usia muda belum juga mendapatkan perhatian serius dari pemerintah?

Pertama, dari segi isu, pengangguran usia muda masih kalah bersaing dengan isu-isu yang lain, seperti kemiskinan dan pengangguran secara umum. Sehingga fokus penanganan pengangguran usia muda itu tidak terumuskan dengan baik. Akibatnya, isu tersebut belum menjadi isu politik para perumus kebijakan dan perencanaan pembangunan.

Selain itu?

Yang kedua, pada tingkat pelaksanaan program, tidak pernah ada pengetahuan yang cukup tentang besaran permasalahan-nya. Misalnya, berapa jumlah penganggur usia muda, ada di kantong-kantong mana saja mereka, dsb. Data-data tentang itu belum pernah ada sehingga programnya pun menjadi program yang sangat makro dan tidak pernah fokus pada pengangguran usia muda.

Apa dampak sosial pengangguran usia muda itu?

Bisa jadi bom waktu jika tidak segera ditangani. Sebab, pengangguran usia muda berpotensi menjadi kelompok pengangguran putus asa. Logikanya begini. Anak-anak muda itu sedang berada pada usia produktif. Dan, sebagian besar merupakan lulusan SLTA dan perguruan tinggi. Mereka tentu mempunyai harapan-harapan yang tinggi di satu sisi.

Kenyataannya, mereka harus antre juga bersama kelompok-kelompok penganggur lainnya yang mungkin lebih rendah tingkat pendidikannya. Harapan yang tinggi namun sulit diwujudkan sedikit demi sedikit akan melemahkan mental anak-anak muda tersebut. Dengan demikian, kemungkinan kelompok itu menjadi pengangguran putus asa menjadi lebih besar.

Dampak lainnya?

Bisa mendorong krisis kepercayaan kepada dunia pendidikan. Bayangkan, orang desa yang bersusah payah menyekolahkan anaknya hingga menjual sapi, sawah, dan aset lainnya tiba-tiba setelah lulus tidak bisa bekerja.

Data BPS menunjukkan dari 1,3 juta pengangguran di Jawa Timur, 60 persennya merupakan pengangguran yang tidak pernah bekerja sama sekali. Apa makna di balik angka tersebut?

Itu berarti memberikan kesempatan kerja kepada kelompok tersebut jauh lebih sulit. Sebab, kesempatan kerja yang selama ini tersedia hampir semuanya menghendaki tenaga siap pakai atau yang sudah berpengalaman. Definisi siap pakai ini tidak akan bisa dipenuhi oleh yang 60 persen itu.

Jadi, semakin sulit peluang pengangguran usia muda untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi profil tenaga kerja kita rata-rata tidak mempunyai kompetensi plus. Misalnya, pengetahuan komputer, bahasa Inggris, Mandarin, dsb. (redhi/mk)

Artikel dimuat Jawa Pos pada 19 Agustus 2008