Kolom Pro Otonomi
Pilkada Prestasi Utama
Lalu, apa prestasi otonomi daerah yang paling signifikan? Tentu saja diterapkannya pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung. Itu merupakan bentuk konkret dari desentralisasi politik yang diamanatkan dalam UUD 1945.
Pilkada langsung juga merupakan wujud demokrasi yang paling mendekati bentuk idealnya. Pilkada langsung menjadi terobosan yang baik dalam tata pemerintahan daerah. Konflik pilkada yang berlarut-larut hanya terjadi di sebagian kecil daerah. Di Jawa Timur, di antara 19 daerah yang sudah mengadakan pilkada, kerusuhan hanya terjadi di satu tempat, yaitu Kabupaten Tuban.
Di beberapa tempat, dampak pilkada langsung ini membawa perubahan yang positif bagi kemajuan daerah. Pilkada langsung melahirkan kepala daerah yang mempunyai kualitas dan kapasitas leadership yang baik. Riset JPIP menunjukkan bahwa kemajuan suatu daerah berbanding lurus dengan faktor leadership kepala daerah. Dengan kata lain, maju tidaknya suatu daerah sangat bergantung pada kualitas dan kapabilitas kepala daerah.
Dengan leadership yang baik, kemajuan daerah bisa cepat diraih. Beberapa kepala daerah yang menonjol karena inovasinya dalam memajukan daerah, antara lain, bupati Lamongan, bupati Sidoarjo, wali kota Blitar, bupati Sragen, bupati Jembrana, wali kota Tarakan, bupati Kebumen, gubernur Sumatera Barat, gubernur Gorontalo, dan lainnya.
Beberapa inovasi yang dibuat daerah juga telah menginspirasi pemerintah pusat untuk mengadopsinya. Seperti penerapan lelang serentak melalui internet (e-procurement) yang diterapkan Pemkot Surabaya, perda pelayanan publik di Jawa Timur yang oleh pemerintah pusat diadaptasi menjadi RUU pelayanan publik, dan penerapan perijinan satu atap (one stop services) di tingkat pusat.
Hal yang menggembirakan juga terjadi terkait perkembangan otonomi khusus di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Perjanjian damai RI-GAM yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia semakin memantapkan otsus di NAD. Pengujung 2006 ditutup dengan sangat manis oleh pilkada serentak yang digelar di Bumi Serambi Makkah tersebut. Seluruh rangkaian pilkada berjalan lancar dan damai. Apresiasi terhadap pilkada NAD itu pun mengalir, baik dari dalam negeri maupun dunia internasional.
Sementara itu, otsus Papua, tampaknya, masih berjalan di tempat. Insiden pengibaran bendera bintang kejora yang merupakan lambang Organisasi Papua Merdeka (OPM) masih sering terjadi. (redhi)